Angin ribut


Masih kelanjutan dari postingan sebelumnya, setelah pulang dari Muara Kapuas, saya pun langsung pulang menuju rumah. Tapi, ternyata karena ada urusan mendadak, yakni kebelet pipis..heheheh..akhirnya jadi ngebut-ngebutan di jalan. Terbesit di pikiran ku bahwa aku harus segera ke kamar mandi. Tapi, di mana?masak di tengah jalan. Aku pun teringat, bahwa di STM ntar anak DA ada musyambal. Aku pun menuju ke STM. Sesampainya di sana, aku langsung menuju Sanggar Bakti, beskemnya anak DA. Buru – buru dah ke kamar mandi..leganya..

Lalu ngobrol bareng dengan anak – anak DA, adik kelas yang kebetulan lagi ada di Sanggar. Tanya – tanya persiapan musyambal, gimana, dsb. Lalu di luar sanggar, di lapangan tepatnya heboh akan kencangnya angin ribut. Batu bata terbang, burung bangau yang lagi terbang pun tak kuat melawan angin ribut hingga terbawa angin meskipun berusaha untuk tetap mengepakkan sayapnya. Debu dan pasir pun ikut melayang – layang di udara, membuat mata kelilipan, kena debu. Namun, aku masih di dalam sanggar. Setelah agak reda, aku keluar dan menuju gerbang masuk ke lapangan. Di ufuk barat, mendung banget..wah..mau hujan nih. Aku pun pamitan dengan adik – adik kelas yang ada di sanggar, takut kehujanan di jalan.

Sesampainya di tempat parkir, ketemu dengan 2 alumni DA, yaitu Kak Edi dan Age. Setelah salaman pamit, langsung tancap gas. Ternyata angin kencang masih melanda kecamatan Jetis. Hal ini membuat banyak orang melihat fenomena ini, hingga angin ribut ini menjadi tontonan banyak orang. Gerimis  pun turun. Wah..kehujanan deh. Di depan BLK Yogyakarta di Jalan Kyai Mojo, ku kenakan jas hujan. Ternyata, angin ribut tadi menyebabkan putusnya listrik di traffic light. Bangjo pada mati, membuat transportasi terganggu. Di tengah guyuran hujan lebat itu, Pak Polisi masih siap siaga mengatur lalu lintas, karena bangjo pada mati. Semangat pak! Heheh..

Eh..ternyata di rumah cuma gerimis, bahkan kering. Cuaca yang ekstrim. Sabtu siang yang panas terik, tiba – tiba hujan. Eh..sesampainya di rumah , tanah relatif kering, artinya gak hujan. Angin ribut yang melanda Kota Yogyakarta tersebut pun, ternyata juga melanda rumahku. Beberapa genteng ada yang berterbangan, sampah daun berserakkan di depan rumah, bahkan ada yang di dalam rumah. Praktis membuat khawatir kalau hujan turun, kan bisa banjir ini rumah.

Tadi ternyata di ruma juga kena angin ribut, cukup lama hingga membuat khawatir dan panik. Setelah sampah daun dibersihkan, genteng yang belum selesai diperbaiki kakakku pun, hujan turun. Wah..rencananya aku pun mau ikut Musyambal di STM karena mendapat undangan dari Sangga Kerjanya. Tapi, berhubung hujan, tertunda lah keberangkatan ku ini. Hingga akhir maghrib, baru berangkat ke STM Tercinta dengan diiringi guyuran hujan.

Setelah baca di internet, ternyata angin ribut ini juga melanda Kabupaten Sleman dan Bantul. Menurut info dari BMG, angin kencang ini bukan puting beliung, hanya angin ribut dengan kecepatan 36 km/jam dan tidak teratur. Hal ini terjadi karena cuaca masih dalam peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Padahal, akhir – akhir ini sering hujan. Kok masih di bilang masa peralihan?

Yang penting, selamat dari bencana alam tersebut. Alhamdulillah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s