Untuk PJS


Sebelumnya terimakasih atas kesempatan yang diberikian kepada saya, karena emm..alumni bila  usul – usul ke pihak sekolah juga sulit tersampaikan. Forum yang sudah dibuat (http://smk2-yk.sch.id/forum) , tetapi tidak digunakan  dan di maanfaatkan semaksimal mungkin. Sebenarnya, saya juga bingung, kalau ada alumni punya usulan atau kritik, ide dll itu bisa disampaikan ke siapa? Kalau datang langsung ke sekolah, belum tentu punya waktu ke sana, toh apa Kepala sekolahnya juga bersedia menemui bila belum ada perjanjian. Kalau pun ada perjanjian, pasti ribet. Kalau lewat web sekolah melalui buku tamu, jarang di balas. Begitu juga emai sekolah (info@smk2-yk.sch.id) . Lewat grup / page di FB , itu pun ternyata adminnya bukan guru / pihak sekolah. Ya mungkin secara pribadi seperti ini, melalui imel kepada Ibu, mungkin usulan – usulan dll baru bisa tersampaikan. J

Uneg – uneg yang ingin saya sampaikan kepada Ibu adalah mengenai OSIS, termasuk beskemnya. Kalaupun ada yang membahas mengenai sekolah, saya tidak sanggup juga membahasnya. Ya..segudang masalah stemsa terserbut memang perlu sedikit demi sedikit langkah, perlahan terselesaikan. Konteks yang saya bahas di sini OSIS dan pihak – pihak yang terkait dengan OSIS. Ya, sebelumnya Ibu memang sudah bilang kepada saya bahwa pengembangan sarana – prasarana, termasuk beskem organisasi sudah dibicarakan oleh pihak sekolah (waka sarpras yang baru, tentunya). Pak Kharis juga berkata demikian. Intinya sudah direncanakan kan, Bu? Ya dari dulu memang baru rencana. Saya tahu, sebagai sekolah RSBI Invest yang baru berbenah, seperti pengadaan sarpras ruang kelas, ruang praktik, tempat parkir dll. Fokus sekolah baru ke sana. Memang benar bahwa upaya pengembangan kesiswaan harus diimbangi dengan ketertiban siswa kepada komite. Dengan tidak lancarnya sumbangan siswa kepada komite, tentunya punya dampak ke urusan lain , seperti di eskul dsb.

OSIS sebagai satu – satunya organisasi yang diakui keberadaanya secara sah di sekolah, harusnya punya peranan penting dalam pengembangan kesiswaan. Salah satu media pengembangan siswa selain di KBM, organisasi dan eskul adalah tempat yang cukup signifikan sebagai wadah pengembang dan tempat penyaluran bakat dan minat.

Tentunya, sebagai penanggung jawab seluruh kegiatan siswa dalam hal pengembangan bakat dan minat adalah Waka Kesiswaan, MPO dan sebagai perantara antara sekolah dan siswa adalah OSIS. Kurang lebih seperti itu.

Dengan organisasi/eskul ini, para siswa bisa memperoleh kesempatan dan waktu yang seluas – luasnya di luar KBM untuk mencari, menggali dan mendalami ilmu – ilmu yang tidak diajarkan saat KBM. Nah, di sinilah pembangunan karakter, watak , kepribadian siswa sedikit demi sedikit mulai terbentuk.

Karena siswa sebagai generasi muda adalah kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional yang memang sesuai dengan tujuan dari OSIS, sudah selayaknya sekolah sebagai tempat siswa berekspresi, mengembangkan bakat dan minat, perlu memberikan fasilitas yang sesuai dan layak. Sehingga, siswa bisa lebih nyaman, mantap terhadap organisasi/eskul yang diikuti.

Saat ini fasilitas tsb memang belum bisa terpenuhi terkait fokus dan prioritas pihak sekolah dalam hubungan sarpras/fasilitas untuk siswa. Masalah penambahan kelas/jurusan dalam penerimaan siswa baru belakangan ini memang menimbulkan masalah baru, seperti mengharuskan penambahan ruang kelas, praktik, bahan praktik, tempat parkir dsb. Sehingga, fokus sekolah memang baru ke sana.

Pembenahan beskem semoga memang menjadi agenda utama  OSIS yang akan datang. Resiko gusur menggusur bisa diminimalisir jika Sekolah sudah memberikan beskem kepada setiap organisasi. Kalau dulu (3-4 tahun yang lalu) beskem ok ok saja, mengapa sekarang jadi permasalahan? Menurut saya ya karena sekolah banyak mengambil alih dan mengalih fungsikan beskem organisasi untuk kepentingan sekolah. Ya mungkin untuk kepentingan siswa (dalam berorganisasi, konteksnya) dipikirkan. Tapi nyatanya, kini banyak organisasi yang gak punya beskem. Kalah sama STM sebelah, Stembayo, dll yang notabene saingannya STM 1..hadeh.

Emang, program kesiswaan harus didukung oleh siswanya seperti dalam hal ketertiban dan kedisiplinan siswanya. Namun, apakah sekolah harus fokus dalam 1 hal saja (pengembangan sarpras ruang kelas, praktik, parkir dsb) lalu mengabaikan sarpras untuk siswa berorganisasi?

Saya ambil contoh kasus rehabilitasi gedung sekolah di sayap utara yang kini berlantai 2, lantai bawah untuk ruang gambar sedangkan lantai atas untuk jurusan TKJ dan TMM (yang menimbulkan kecemburuan sosial dengan organisasi, FAKTA itu!!). Sebelum direhab, disebelah timur r. Perlengakapan kan dulu ada beskemnya TMC. Katanya, janji sekolah setelah di rehap akan dikembalikan ke TMC lagi. Selama rehabilitasi berlangsung, TMC nebeng di ruang OSIS. Namun mengapa kini, setelah rehabilitasi gedung selesai beskem TMC tidak dikembalikan? Justru dialih fungsikan menjadi ruang apa itu bu? R. Kesekretariatan PPDB atau QMR saya juga kurang tahu. Tentunya, ini mematikan ruang gerak siswa dalam berorganisasi dan mengembangkan bakat serta minatnya. Ya walaupun TMC akhirnya tetap bisa eksis walaupun hanya nebeng di OSIS. Justru OSISnya yang sekarang kurang eksis, jarang ke beskem, tidak merawat, kotor, tidak tertata..kah..memprihatinkan. Keadaan beskem OSIS yang sekarang, sudah saya ceritakan kepada alumni. Ya rata – rata mereka prihatin.

Sepertinya, OSIS memang harus bisa membuat gebrakan – gebrakan kecil yang positif dan kejutan untuk sekolah hingga gebrakan dan kejutan tsb menyentuh “hati” para pengedhe – penggedhe sekolah.

Sebagai contoh Kidung Stemsa yang baru terkoordinir jadi 1 dengan sie – sie kesenian, atau sekarang mereka tengah mempopulerkan organisasinya dengan nama “Organiasi Kesenian Sekolah (OKS)”. Mereka mengawalil gebrakan dengan mengikuti lomba – lomba teater di sana sini hingga meraih juara. Dan kini? Perhatian kesiswaan dan sekolah mulai ke sana. Mulai dari sering diberi kesempatan untuk tampil dalam acara – acara sekolah, diberikannya beskem (ruang gamelan, dulu ruang KIR bu!!huk huk…:(  ), perbaikan alat band, kostum, dsb. Dan dengan prestasi tsb, mungkin hal tsb yang mengetuk hati sekolah. Intinya memang harus bisa diandalkan, prestasi dan perbaikan diri sendiri di organisasi tersebut, hingga dipandang mampu, meyakinkan dan dengan mudah lobi, negoisasi akan beskem bisa tercapai.

Namun, usaha peningkatan hasil, kinerja/prestasi OSIS agar mampu mencuri perhatian pihak sekolah ya memang harus pelan – pelant dan butuh dukungan pihak terkait. Tentunya ada hambatannya guna meningkatkan prestasi. Bersambung.

 

 

2 thoughts on “Untuk PJS

  1. hmm.,, aku bingung mau ngomentari apa mas.. tapi yang jelas aku merasakan langsung juga keprihatinan ini..
    2 tahun di osis..

    hemmm…

    tapi kok ada kata ‘Bu’?? maksudnya ??

    aku bingung ki ameh komen apa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s