Sayang sebagai kakak


Aku sayang kakak

Akhir – akhir ini, otak ku penuh dengan pikiran – pikiran tentang apa itu suka, cinta , sayang, dan sebangsa dan setanah airnya, serta sejenisnya. Kelompok kata dan padanannya berikut kata yang berkaitan dengan 3 hal tersebut, mulai kembali merasuki pikiran di “hardisk” dan “memory” otakku. Yah… di storage devices ini, semua hal tersugesti dan tersimpan dengan rapi dan terkoordinasi dengan baik. Subhanallah, Maha Besar ciptaan sang Khalik ini, hingga kadang, segalanya memang tak bisa dinalar dan diterima oleh akal sehat, tapi ya…beginilah cinta.

Kenapa jadi membahas ini lagi ya? Apa memang benar cinta akan selalu mengiringi langkah kita? Bisakah kita menemukan cinta kita dengan jodoh kita masing – masing? Minggu, tanggal 5 Desember 2010 (kalau gak salah), aku nontong sebuah acara televisi di salah satu stasiun tv swasta yang membahas tentang cinta monyet. Katanya, kita tidak bisa menemukan cinta, tapi biarkanlah cinta yang menemukan kita hingga kita bisa “menjadi” dan bisa merasakan indahnya “menyayangi”, lebih dari sekedar “disayangi”.

Sebuah pernyataan yang cukup sulit, bagaimana bisa cinta menemukan kita? Kita harus membuka diri dengan mengoptimalkan potensi diri kita masing – masing. Akh..kembali ke judul tentang rasa “sayang sebagai kakak”. Mengingatkan ku pada cewek yang dulu katanya pernah mempunyai rasa yang berbeda kepadaku, dan semua berawal dari short message service. Kenapa sih, aku harus memulai perkenalan yang bertujuan meng-eksplore  hati seseorang dengan sebuah SMS? Kenapa ya aku belum bisa “berani” ngobrol langsung, bertatap muka dengannya? Apa aku ini terlalu takut dengan aturan agama yang melarang 2 orang lawan jenis berduaan? Ya walaupun bisa dengan orang ketiga yang mungkin mukhrimnya, tapi aku saat ini tak ingin hubungan ku dengan seseorang diketahui publik, bukannya tak ingin diketahui, tapi tak ada salahnya jika baru awal, memang tak semua orang perlu tahu. Dan kini, kegiatan itu kembali lagi kujalani dengan sesorang yang berbeda dari kisah terdahulu.

Berawal dari SMS an tiap malam hingga berlanjut ke paginya, dan seterusnya secara “intens” (hehe), hingga iseng nelpon hanya untuk bilang “I LOVE YOU”. Sungguh berat diongkos, tapi aku tak bermaksud demikian. Hahaha. Katanya dia masih bingung dengan apa yang aku bicarakan tadi. Aku pun berinisiatif untuk mengajaknya “ta’aruf”, supaya meminimalisasi perbuatan dosa aja. Tapi tetap menaati aturan agama dong. Semoga saja bisa, walaupun aku telah berdiskusi dengan beberapa teman tentang apa itu ta’aruf dsb, ya memang sulit untuk menjalani apa itu ta’aruf. Yah, sebenarnya Tuhan pasti membuat segalanya menjadi lebih mudah, tergantung kita menjalani dan memaknai apa itu sebuah pengorbanan, kesabaran, keikhlasan dan ketulusan. (bahasa ku..🙂 )

Hingga akhirnya aku iseng untuk bilang aku sayang kamu, tapi tetap lewat sms sih. Dia hanya bilang bahwa akan menjawab setelah semesteran. Semesteran pun usai , lalu apa jawabannya?

“Aku sayang kakak sebagai kakak ku”.

Setelah konfirmasi dan mengklarifikasi apa maksud kata – kata itu,  ya intinya dia memang sayang aku tapi karena aku dianggap kakak olehnya. Hingga semalam, akhirnya ku putuskan saja bahwa untuk saat ini, memang persahabatan lebih baik dan dia memang sudah nyaman dengan kondisi dan keadaan yang seperti ini.

Terimakasih telah “berani” mencuri hati ini..

🙂

<< Beranda

4 thoughts on “Sayang sebagai kakak

    1. Kan dah tak cetak notepade wingi. Semua orang, dari segala usia, boleh memikirkan cinta. Hahah..kamu nongol di dunia ini kan juga karena hasil buah cinta..xixixixi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s