Budaya 3S


Siswa bersalaman dengan guru
Siswa bersalaman dengan guru (ayu/dewi)

Tahun 2009 silam, sekolah meluncurkan program baru guna mendukung SMK N 2 Yogyakarta menuju SBI.  Program yang sangat menyatukan civitas akademika tersebut adalah Budaya Salam, Sapa dan Senyum atau yang selanjutnya lebih dikenal dengan Budaya 3S.

Budaya 3S yang diterapkan sekolah adalah salah satu bagian dari program sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan suasana sekolah yang menyenangkan, serasa satu keluarga dan keakraban antara siswa dengan pihak sekolah bisa terjalin dengan baik. Dengan 3S tersebut, timbulah rasa keramahtamahan antar sesama pelajar, guru, karyawan dan di antara ketiganya.

Program 3S yang direalisasikan setidaknya setiap pagi ini, cukup mendapat respon yang positif. Ketika para siswa memasuki lobi pintu utama. Para guru yang bertugas dalam hal tata tertib yang tergabung dalam Tim Tatib menyambut kedatangan para siswa yang hendak menimba ilmu. Sambutan hangat para guru ini ditunjukkan dengan aksi “among tamu”, yakni para guru berdiri sejajar dan menyalami para siswa sambil menampakkan senyum terindahnya seraya menyapa putra putri didiknya dengan ucapan selamat pagi, assalamualaikum dan sapaan hangat lainnya.

Budaya 3S yang masih berjalan hingga kini tersebut, selain bertujuan menjadikan lingkungan sekolah yang harmonis antara sekolah dengan para siswa, juga bertujuan untuk mengontrol dan menegakkan kedisiplinan siswa. Sehingga pemandangan antri di setiap pagi di lobi pintu utama sekolah selalu mengawali KBM. Para siswa dicek ketertibannya, mulai dari seragam, atribut, sepatu hingga penampilan, rambut tak luput dari “sensor” para guru Tim Tatib.

Para siswa yang memang mematuhi peraturan, dipersilakan untuk lanjut ke ruang kelas masing – masing karena dianggap “lolos sensor”. Sedangkan para siswa yang belum menaati tata tertib langsung ditindak di tempat secara tegas. Misalnya, ada siswa yang tidak berpakaian rapi, dinasihati dan disuruh untuk merapikan pakaiannya, yang tidak bersepatu hitam, sepatu tersebut diamankan sementara, dan sebagainya.

“Menurutku ada manfaatnya, sebab itu adalah salah satu oprasi ketertiban siswa ya dari situ”, ujar Indra Pramudita, siswa 2 TSP yang menjabat MPK tersebut. “Tapi kadang pas antriannya banyak, menyebalkan. Lha aku mau salaman sama gurunya, malah gurunya gemang (tidak mau.red) untuk diajak salaman. Malah disuruh cepat – cepat. Di dorong – dorong lagi. Marmos setengah mati”, tambahnya secara tertulis di pesan jejaring sosial Facebook. Nampak kekecewaan dalam testimoni Indra tersebut.

Tak jarang, banyak siswa yang merasa dirinya belum tertib merasa deg – degan, was – was dan dibayangi rasa bersalah karena nantinya pasti kena teguran. “Wah, tiap hari deg – degan terus, soalnya saya sering di potong rambutnya”, ujar Dani, alumni TKB 2010 itu mengenang masa – masa ketika tiap pagi di lobi pintu utama sekolah. Dani sering dipotong rambutnya, karena mungkin dianggap terlalu panjang dan tidak sesuai ketetentuan. Ketika ditanya mengenai harapan ke depannya mengenai Budaya 3S ini, ia tak begitu menanggapinya. “Wah..saya tidak punya pandangan, hahahah”, katanya sambil menulis ekspresi tertawa di obrolan.

Razia rambut (ayu/dewi)
Razia rambut (ayu/dewi)

Sehingga Budaya 3S ini cukup punya andil mengakrabkan antara guru dengan murid, Selain itu para murid juga berlatih untuk disiplin. Hal senada juga diungkapkan oleh Agus, siswa 3 TKJ 1, “ Terkadang, para guru memang menyalami kami, tapi seakan – akan mencari keasalahan kami. Misalnya kalau ada seragam yang tidak dimasukkan, kami disuruh untuk memasukkan agar rapi”. Setidaknya program rutin ini menjadikan para siswa untuk memulai pagi dalam rangka menuntut ilmu dengan semangat, salam, sapa dan senyuman serta kedisiplinan. Selanjutnya, diharapkan dengan Budaya 3S dan disiplin sejak dini tersebut bisa diterapkan setelah lulus dari SMK N 2 Yogyakarta, misal saat memasuki dunia kerja atau yang melanjutkan studi.

Tapi, yang perlu diperbaiki adalah, kadang para guru bersalaman sambil ngobrol dengan guru di sebelahnya, sehingga para siswa dicuekin begitu saja. “ Masak gurunya salaman sambil ngobrol sama guru di sebelahnya, gak memperhatikan yang diajak salaman itu siapa”, lanjut Agus ketika diwawancarai lewat aplikasi chatting di jejaring sosial dengan nada menyayangkan sikap guru tersebut.

Terkadang, Budaya 3S ini belum berjalan maksimal. Sehingga perlu kerja sama yang sinergi antara murid dengan gurunya agar apa yang menjadi maksud dan tujuan program ini bisa berjalan sesuai yang diharapkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s